Kamis, 06 Desember 2012

GARuk keTEK

kalo ngeliat anak2 TL yang baru (angkatan 2007) bawa2 papan gartek alias gambar teknik yang sering diplesetin jadi garuk ketek,gw jadi teringat sama masa2 dimana gw pun ngalamin hal kaya gitu,yaah walaupun agak sedikit berbeda.

sebenernya sih mata kuliah nya ga terlalu susah,tapi yang bikin ribet emang tugasnya itu loh. Buat orang yang sedikit susah berkonsentrasi dan ga telaten kaya gw,tugas ini bener2 nyiksa..bayangin aja, gambar manual pake rapido dan mal diatas kertas kalkir dan gambarnya ga ada yang gampang.kesalahan yang biasa terjadi dalam menggambar manual ini adalah : tinta rapido bleber sehingga gambar jadi rusak..saat menarik garis lurus, tangan tersenggol sehingga garis jadi tak karuan..banyak hapusan yang menyebabkan gambar tak sedap dipandang mata..atau kertas kalkir nya lecek dan terlipat,dll. Hal2 tersebut menyebabkan gambar terpaksa diulang,gondok memang. Tapi gw ga nyangka harus ngulang gambar gara2 hal lain.

Biasanya gw ngerjain gartek sehari sebelum pengumpulan, maklumlah mahasiswa sibuk banyak kerjaan,hahaa..(sibuk bengong,sibuk main,sibuk tidur). Pengumpulan gambar biasanya hari jumat dan pada hari jumat itu lah diberikan tugas selanjutnya untuk minggu yang akan datang. Dan entah kenapa pada saat itu gw bertekad buat nyicil2 gambar biar ga ribet. Pelan2 gw bikin tugasnya,nyicil dari hari ke hari dan sampai lah pada hari kamis,sehari sebelum hari jumat (yaiyalah). waktu itu gw inget gambarnya udah beres dan rapih tinggal finishing touch : menuliskan nama, nim, dan asisten (ah,pekerjaan yang mudah..)

Gw liat2lagi gambarnya,”waah bagus banget ya gambar gw.. ckckck, bakat ngelukis nih gw..” kalo kaya gini sih,mending dari dulu aja gw nyicil2 gambar biar ga ribet,pikir gw..akhirnya gw mulai menuliskan nama, nim, dan asisten pada kolom yang udah gw bikin sebelumnya, dan tentu aja memakai rapido dan mal. JADI!!..weeew,akhirnya selesai..Cuma 5 menit bikin nama,nim sama asisten. Tapi ko ada yang aneh ya?? Pas gw liat lagi dengan seksama,spontan badan gw lemes bukan main,astagfirulloh!, masyaAllah!, subhanallah!..ternyata gw salah menuliskan nama, nim, dan asisten,( perlu diketahui kertas kalkir itu adalah kertas yang sedikit buram dan tembus pandang,jadi agak susah membedakan sisi yang satu dengan sisi yang lainnya). Dan gw menuliskan nama,nim, dan asisten pada sisi yang berlawanan dengan gambar yang gw buat, damn!!, aaarrrghh..sial banget dah gw,setelah bengong selama beberapa menit akhirnya gw memutuskan buat ngulang gambar itu dari awal lagi,sampe ga tidur pula,ckckck..tp selalu ada hikmah dari suatu peristiwa..kayanya gw ditakdirkan jadi deadliners deh,hahahaha…

-tulisan ini dibuat pada tahun 2008

friend in a coma

Don't judge a book by it's cover.

Yes, saya cukup setuju dengan pernyataan tersebut, kenapa? Karena memang kita ga boleh menilai sesuatu dari luarnya aja. Tapi disadari atau ngga kadang2 saya justru menilai sesorang dari luarnya aja, contohnya dari gaya berpakaian, gaya berbicara seseorang atau dari lingkaran permainannya, paling tidak pada awalnya.

Saya pernah bertemu dengan sesorang yang belum saya kenal sebelumnya. Tau sama tau tanpa pernah berbicara satu sama lain, saya menyebutnya “friend in a coma”. Awalnya saya pikir dia orang yang sombong, apatis, ribet kaya cewe2 pada umumnya, ga punya sense of humanism, pokoknya kurang baik lah di mata saya. Tapi ada hal yang menarik perhatian saya dan entah itu apa, saya juga gabisa menjelaskannya.

Pada suatu hari yang random dalam keadaan ‘terpaksa’, terpaksa karena rasa penasaran akhirnya kami berdua pun berbicara, bicara banyak hal.

Dan sampai pada akhirnya saya pun‘kecele’, ternyata “friend in a coma” ga seburuk yang saya pikirkan sebelumnya. Apalagi setelah dia menceritakan sedikit tentang dirinya justru saya merasa malu, mungkin saya yg lebih sombong, lebih apatis dan lebih ga punya sense of humanism, makan tuh dir!! Hahaha

Well, sejak saat itu penilaian buruk saya pun berubah jadi rasa simpati. Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan (wikipedia).

saya simpati karena dia punya passion dan mengejar passion nya, saya simpati karena dia bisa melihat dunia dengan cara yang luas, saya simpati dengan kejujurannya dalam bertutur kata dan saya simpati karena dia masih bisa ‘menari’ dalam ‘penderitaan’ nya.

akhir kata,sepenggal lirik vampire weekend dari saya buat friend in a coma: “I see you shine in your way, go on! go on!”

Senin, 23 April 2012

Tetaplah Seperti Itu

Matahari masih saja membara, mungkin ia sedang marah.
Siang masih saja menyengat, mungkin dia belum lelah.
Malam masih saja temaram, mungkin ia belum bosan.
Angin masih saja berhembus,mungkin ia ingin pergi.
Dan Bulan masih saja sendiri, mungkin ia ingin ditemani.

Rabu, 01 Februari 2012

BAHAGIA



Haru biru membawa warna
Terlihat hina menahan duka
Lepaskan saja terbangkan ceria
Dan berbahagia
Berlari sekuat-kuat tenaga
Pergi menghapus jelaga
Coba hilangkan dahaga
Dan berbahagia
Bersama pelangi melukis dunia
Mengukir senyum di setiap jiwa
Menikmati waktu yang menua
Dan berbahagia

Kamis, 24 November 2011

Tidur saja

otak ini penuh penat
yang berjalan begitu lambat
tak ada teman,tak ada tawa
merayap bersama sunyi,menelan tua
hati ini hancur terbuang
tercecer indah di tengah halaman
lepaskan segala ceria
terisak dalam duka
rindu tertawa bersama muda
lalu nyalakan gelap
biar tubuh terlelap
dan pergi menikmati mimpi

Senin, 18 Juli 2011

Aku,Ironi

aku, ironi
seorang pendiam yang banyak bicara
aku, ironi
seorang miskin yang kaya raya
aku, ironi
seorang duka yang penuh tawa
aku, ironi
seorang kelam yang berwarna
aku,ironi

Senin, 06 Juni 2011

Ketika

Ketika mentari tak lagi berteman pagi
Ketika hujan tak lagi bersenandung pelangi
Ketika embun tak lagi menyejukkan hari
Ketika malam tak lagi menyapa sunyi
Ketika dunia tak lagi pantas dihuni
Dan ketika seonggok daging berdiam diri menunggu mati