Pada tahun itu
secara mengejutkan aku berhasil masuk perguruan tinggi negeri di Bandung, ya
memang mengejutkan rasanya dan hampir tidak percaya bahwa aku yang dulunya
diramalkan oleh guru- guru SMA ku tidak akan masuk perguruan tinggi negeri itu,-”
waah dir,kalo nilai kamu masih gini-gini aja mana bisa masuk ITB nih!”- ternyata
bisa membalikkan keadaan, aku seperti tim kuda hitam Denmark di piala eropa
1992; aku seperti seorang juara, ingin rasanya aku menghadap guru-guru SMA ku ,
melakukan selebrasi layaknya seorang striker
membobol gawang lawan dan berkata pada mereka “lihat pak, saya bisa!” lalu
tertawa sejadi-jadinya.
Kesepian. Itulah
yang paling kurasakan saat pertama kalinya harus hidup dan tinggal di kota
orang paling tidak untuk 4 tahun ke depan. Mungkin inilah saatnya aku belajar
hidup mandiri walaupun aku mempunyai seorang abang yang juga kuliah di Bandung,
tapi tetap saja hidup di kota lain adalah sesuatu hal yang sangat baru buatku.
Sebenarnya ada
perasaan takut yang tak bisa aku jelaskan kepada siapapun, ketakutan yang membayangi
bahwa aku masuk ke perguruan tinggi yang begitu tersohornya, perguruan tinggi
yang isinya adalah putra-putri terbaik bangsa, ketakutan akan mampukah aku
dapat bertahan dengan tekanan-tekanan yang
muncul seiring ekspetasi -keluargaku, teman-temanku, bahkan masyarakat-
yang sangat tinggi kepada mahasiswa mahasiswi kampusku ini.termasuk aku.
Well, pada waktu itu aku kesampingkan
hal tersebut dan berkonsentrasi pada hal yang lain. Adaptasi. Terus terang saja
sedari kecil aku orang yang cukup tertutup dan berpikir bahwa aku akan menjadi
orang yang anti sosial, tidak punya teman dan mungkin jadi orang yang terbuang,
terlupakan. Namun Bandung merupakan kota yang ramah, kota yang dingin sedingin
salju tapi hangat sehangat api unggun, kota yang membuat satu sama lain
bersahabat secara natural, paling tidak itulah yang aku alami. Aku tidak
merasakan kesulitan mendapatkan teman-teman dan bersosialisasi. Bersama
teman-teman baruku aku jelajahi kota ini, ku telusuri pelosok-pelosok kota,
kami seperti bocah petualang, tanpa skenario dan dialog yang dibuat-buat
sehingga terasa janggal dan aneh seperti di televisi. Kami sekelompok prajurit
yang sok tau, anak-anak kemarin sore, yang melewati hari dengan kuliah dan
menghabiskan malam bersenang-senang bersama.
Dan sejak saat itu aku sadar aku telah jatuh
cinta dengan Bandung!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar