Jumat, 06 September 2013

Bandung 2004



Pada tahun itu secara mengejutkan aku berhasil masuk perguruan tinggi negeri di Bandung, ya memang mengejutkan rasanya dan hampir tidak percaya bahwa aku yang dulunya diramalkan oleh guru- guru SMA ku tidak akan masuk perguruan tinggi negeri itu,-” waah dir,kalo nilai kamu masih gini-gini aja mana bisa masuk ITB nih!”- ternyata bisa membalikkan keadaan, aku seperti tim kuda hitam Denmark di piala eropa 1992; aku seperti seorang juara, ingin rasanya aku menghadap guru-guru SMA ku , melakukan selebrasi layaknya seorang striker membobol gawang lawan dan berkata pada mereka “lihat pak, saya bisa!” lalu tertawa sejadi-jadinya.
Kesepian. Itulah yang paling kurasakan saat pertama kalinya harus hidup dan tinggal di kota orang paling tidak untuk 4 tahun ke depan. Mungkin inilah saatnya aku belajar hidup mandiri walaupun aku mempunyai seorang abang yang juga kuliah di Bandung, tapi tetap saja hidup di kota lain adalah sesuatu hal yang sangat baru buatku.
Sebenarnya ada perasaan takut yang tak bisa aku jelaskan kepada siapapun, ketakutan yang membayangi bahwa aku masuk ke perguruan tinggi yang begitu tersohornya, perguruan tinggi yang isinya adalah putra-putri terbaik bangsa, ketakutan akan mampukah aku dapat bertahan dengan tekanan-tekanan yang  muncul seiring ekspetasi -keluargaku, teman-temanku, bahkan masyarakat- yang sangat tinggi kepada mahasiswa mahasiswi kampusku ini.termasuk aku.
Well, pada waktu itu aku kesampingkan hal tersebut dan berkonsentrasi pada hal yang lain. Adaptasi. Terus terang saja sedari kecil aku orang yang cukup tertutup dan berpikir bahwa aku akan menjadi orang yang anti sosial, tidak punya teman dan mungkin jadi orang yang terbuang, terlupakan. Namun Bandung merupakan kota yang ramah, kota yang dingin sedingin salju tapi hangat sehangat api unggun, kota yang membuat satu sama lain bersahabat secara natural, paling tidak itulah yang aku alami. Aku tidak merasakan kesulitan mendapatkan teman-teman dan bersosialisasi. Bersama teman-teman baruku aku jelajahi kota ini, ku telusuri pelosok-pelosok kota, kami seperti bocah petualang, tanpa skenario dan dialog yang dibuat-buat sehingga terasa janggal dan aneh seperti di televisi. Kami sekelompok prajurit yang sok tau, anak-anak kemarin sore, yang melewati hari dengan kuliah dan menghabiskan malam bersenang-senang bersama.
 Dan sejak saat itu aku sadar aku telah jatuh cinta dengan Bandung!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar